Biografi sang pendekar pena

Mbah mabub Junaidi bukan hanya milik PMII tapi milik rakyat Indonesia 



Mahbub Djunaidi adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).  Ia dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan di pundaknya. Ini bukan predikat main-main, karena ia memang seorang yang memiliki talenta luar biasa. Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam. Tentu saja dengan ciri khas yang dimilikinya: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, ia disebut pendekar pena, bahkan Bung Karno terkesan dengannya. 

Lapsus Warta Fragmen Quran Keislaman Ramadhan Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya TOKOH Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena Ahad, 4 Februari 2018 | 07:02 WIB Oleh Ahmad Hifni Mahbub Djunaidi adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia lahir di Jakarta pada 22 Juli 1933. Ia dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan di pundaknya. Ini bukan predikat main-main, karena ia memang seorang yang memiliki talenta luar biasa. Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam. Tentu saja dengan ciri khas yang dimilikinya: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, ia disebut pendekar pena, bahkan Bung Karno terkesan dengannya. Kebiasaan menulis telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Bahkan di masa itu, cerpennya berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh Kisah, sebuah majalah kumpulan cerita pendek bermutu, disertai komentar dan penilaian pengelolanya HB Jassin, sang legendaris paus sastra Indonesia itu. HB Jassin sangat kagum dengan tulisan Mahbub muda. Baginya, Mahbub mampu memandang persoalan dari seginya yang kocak. Elaborasi antara humor dan satire (cemooh kocak) disertai dengan unsur kritik. Gaya tulisannya ringan dan menyenangkan, seolah-olah main-main, tetapi persoalan serius yang diangkat. Keberaniannya menyuarakan kebenaran dan membela wong cilik tak perlu diragukan. Sampai-sampai ia dijuluki si burung parkit di kandang macan. Ia banyak menulis, memberi perhatian dan pembelaan kepada kaum miskin. Termasuk kepada anak-anak pedagang asongan dan para pengemis cilik di persimpangan-persimpangan jalan. Ia dikenal sebagai pribadi yang ringan ceria, kocak berolok. Baginya semua orang tak ada bedanya, tidak bermartabat lebih tinggi dan lebih rendah, hanya karena jabatan dan pekerjaannya. Lapisan pergaulannya sangat luas, dan semua disapa dengan Anda, dengan saudara, dengan bung. Di dunia sastra, Mahbub sangat menyenangi sastra Rusia karena dalam penilaiannya, sastrawan Rusia banyak melahirkan karya sastra yang sarat dengan kritik tajam dan dituturkan secara satire. Humor-humor kecil menjadikan kritik-kritik tersebut terkesan lucu. Pandangan dan kesukaannya inilah yang banyak memengaruhinya untuk memproduksi tulisan yang mengandung humor tinggi. Tak heran jika sebagian besar kolom Mahbub berisi masalah-masalah politik dan sosial tetapi penyajiannya bernilai sastra. Tulisan-tulisannya yang sarat humor ini membuat siapapun yang terkena tidak merasa sakit hati, malahan menimbulkan guncangan yang tak perlu. Tak bisa dimungkiri, unsur kejenakaan dalam tulisannya membuat pembaca tertawa dalam keadaan serius. Apalagi ia mampu menyajikan efek haru yang syarat emosional. Menghibur dan menggugat, melecut tawa dan menorehkan kepedihan, itulah humor pada kadar tertingginya. Mahbub berhasil memunculkan paradoks humor itu. Mahbub pernah memimpin sejumlah media masa, juga menulis dan menerjemahkan puluhan buku. Ia juga dikenal sebagai wartawan yang gigih dan bekerja keras dan konsisten untuk sejauh mungkin memelihara kewartawanan serta organisasi wartawan sebagai profesi dan organisasi yang mandiri. Sejak menjadi wartawan, ia memiliki rutinitas setiap hari menyelesaikan tulisan tajuk rencana koran dalam waktu relatif cepat, sekitar 1-2 jam. Kadang dibuatnya satu, kadang dua buah sekaligus. Itu dilakukannya sendiri, bertahun-tahun. Bahkan, sejak 23 November 1986 sampai 8 Oktober 1995, ia menulis rutin setiap minggu untuk rubrik Asal Usul di koran harian Kompas. Rubrik ini mensyaratkan tulisan yang amat ketat. Tulisan-tulisannya di rubrik ini disinggung dan dipaparkan secara ringan dan lebih menekankan pada sisi humornya. Rintangan tulisan yang penuh syarat ini mampu dipenuhi Mahbub. Selama 9 tahun menulis di rubrik ini, ia telah menulis 236 buah tulisan. Kenapa Mahbub bisa memenuhi syarat tulisan yang relatif sulit ini? karena dalam dirinya sudah ada tiga ciri menonjol: politikus, wartawan dan humoris. Dalam salah satu tulisannya di harian Duta Masyarakat, Mahbub mengemukakan pendapatnya bahwa Pancasila mempunyai kedudukan lebih sublim dibanding Declaration of Independence susunan Thomas Jefferson yang menjadi pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1847. Tulisan itu dibaca Bung Karno, dan karena tulisan itu Bung Karno takjub kepadanya dan tulisan-tulisannya. Di luar kegiatan tulis menulis, Mahbub pernah bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selagi masih duduk di SMA. Pada tahun 1960, ia terpilih menjadi ketua umum PMII. Selama menjadi ketua umum PMII, Mahbub berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acar penting PMII, hingga sekarang. Setelah aktif sebagai ketua Umum PMII, Mahbub diminta membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai seorang ketua pucuk pimpinan organisasi kader NU untuk kalangan pemuda itu. Dan untuk organisasi ini pula Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap digunakan hingga sekarang. Di dalam organisasi NU sendiri, Mahbub pernah duduk sebagai salah seorang wakil ketua PBNU. Ia juga pernah mewakili NU menjadi anggota DPR-GR/MPRS. Di sekitar waktu Pemilu 1977, Mahbub aktif keluar masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah, diskusi, dan menyampaikan makalah. Akibat kegiatan itu, tanpa kejelasan, Mahbub ditahan pihak berwajib selama setahun. Tanpa jelas apa salahnya karena tidak pernah diproses melalui pengadilan. Sejak penahan itu, Mahbub tidak pernah sehat sepenuhnya lagi. Hari Raya Idul Fitri tahun itu, Mahbub masih berada di rumah sakit dalam status tahanan. Anak istrinya datang dan berlebaran bersama di kamar yang sempit itu. Mengenang manisnya berkumpul keluarga dan ingin memberi pegangan anak-istrinya, ia menulis surat: “Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlepan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa mengingat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebihan.”


KELAHIRAN

H. Mahbub Djunaidi lahir pada tanggal 27 juli 1933 atau 3 Rabiul Akhir 1352 H di Jakarta. Beliau merupakan anak pertama dari 13 bersaudara dari pasangan H. Muhammad Djunaidi (anggota DPR hasil pemilu tahun 1955) dan Ibu Muchsinati.

WAFAT

H. Mahbub Djunaidi wafat pada tanggal 1 Oktober 1995 di Bandung dan dimakamkan di Jalan Soekarno - Hatta Gang Assalam No.41, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat.

KISAH MASA KECIL

Kalau kita baca novelnya, Dari Hari Ke Hari, kita akan tahu bagaimana masa kecilnya. Mahbub kecil menghabiskan masa kecilnya di kampung Kauman, Solo. Beliau bergaul dengan anak-anak kampung, tapi uniknya juga sering bermain bola dengan Raja Solo.

Meski demikian, banyak yang mengakui bahwa sebelum terkenal sebagai seorang penulis ulung, bakat menulis H. Mahbub Dunaidi sudah terasah sejak kecil. Mulanya berawal dari hobi, tapi ketekunan dan keseriusannya membuahkan hasil, membuat dirinya menjadi seorang penulis yang sangat terkenal dan banyak yang mengagumi kepiawainya.

Saat berusia 13 tahun, Mahbub turut merasakan pahit getirnya revolusi Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan. Beliau ikut hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, Tanah Abang, Jakarta. Kondisi harus diterimanya sebab ayahnya, H. Muhammad Djunaidi adalah seorang pegawai negeri, yang  oleh jawatannya disediakan rumah di Solo. Dan di kota inilah keluarganya harus berpindah.

Sebelumnya, ayahnya berencana mengirim Mahbub kecil ke sebuah pesantren di Lasem. Karena situasi darurat, niat itu urung. Akhirnya dibimbing secara ketat oleh ayahnya sendiri. H. Mahbub memang berasal dari keluarga yang taat beragama.

Neneknya, penceramah agama yang berkeliling dari satu majelis ke majelis lainnya. Ayahnya, tokoh NU yang ketika zaman Jepang melarang seikerei sampai 45 derajat. Dari hari ke hari, Mahbub kecil menyimak dan melewati masa revolusi fisik Indonesia dari tahun 1946-1949. 

Berbagai peristiwa terjadi. Belanda datang lagi dibonceng tentara sekutu. Niat awal mereka adalah melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Tapi kenyataannya mereka ingin berkuasa kembali. Perlawanan terjadi dimana-mana. TKR terus bergerilya. Sementara masyarakat sipil membentuk kesatuan laskar, seperti Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zainul Arifin dan Laskar Sabilillah pimpinan KH Masykur.

Di sisi lain, benaknya yang kecil, mulai tumbuh pertanyaan, kenapa situasi negeri ini demikian sengsara. Kemakmuran, kesuburan, alih-alih jadi kesenangan, malah berbuah kesengsaraan. Hasil bumi dikeruk bertahun-tahun. Keringat rakyat diperas layaknya gombal atau kain lusuh yang sudah lama tidak dicuci.

H. Mahbub diam-diam mempertanyakan, setelah merdeka diraih kenapa harus ada Perjanjian Linggarjati dan Renville?  Apakah pemimpin republik ini tidak belajar sejarah? Bukankah dari dulu Belanda adalah pembual ulung? Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan para pahlawan lain juga telah mengecap getirnya menghadapi otak busuk penjajah.

PENDIDIKAN

Meski situasi sangat sulit, Mahbub Djunaidi kecil tetap meneruskan sekolah SD-SMP di Solo. Bangunan sekolah di sana sama saja dengan rumah-rumah penduduk, yang membedakan keduanya hanyalah papan nama.

Selain harus belajar di SD dan SMP, beliau juga harus belajar agama di Madrasah Manbaul 'Ulum. Tapi justru di madrasah itulah Mahbub kecil mendapat banyak asupan buku dari salah seorang gurunya, Kiyai Amir. Di tempat itu beliau bergaul dengan buku-buku sejarah dan sastra. Tak hanya itu, H. Mahbub juga harus belajar nahwu dan shorof (gramatika Bahasa Arab), dan juga harus menghafal Kitab Barzanji (sejarah ringkas Nabi Muhammad yang ditulis dengan indah).

Setelah lulus SMP, H. Mahbub melanjutkan sekolah menengah atasnya di Jakarta, di SMA Budi Utomo. Pada saat SMA ini, kecintaan beliau terhadap menulis semakin kuat. H. Mahbub sering mengirim berbagai tulisannya ke media Ibu Kota. Selain itu, di saat yang sama beliau juga telah membuat majalah siswa dan memegang jabatan sebagai pimpinan redaksinya.

H. Mahbub Djunaidi sempat mengambil Pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, namun beliau terpaksa berhenti sampai tingkat II karena ayahnya, H. Muhammad Djunaidi, wafat di usia 45 tahun. Sedangkan ibunya lebih dulu wafat di usia 30 tahun, sebelum ayahnya.

Walau belum sempat menyelesaikan studi Hukum di FH-UI, H. Mahbub Djunaidi sempat belajar di Kolombo, Srilangka. Karena kecintaannya terhadap menulis, beliau pernah mendapat kesempatan untuk melakukan study banding dalam bidang jurnalistik. Pada saat itulah, beliau terus mengembangkan kemampuan menulisnya.

KARIER

H. Mahbub memang terlahir sebagai seorang wartawan, esais, sastrawan, dan politisi NU yang popular di zamannya. Beliau mengawali kariernya pada tahun 1958 dengan ikut membantu Harian Duta Masyarakat. H. Mahbub masyhur dikenal sebagai pendekar pena yang tulisannya dikenal kreatif dengan menggabungkan politik, sastra, dan jurnalistik.

Dalam konteks bidang jurnalistik sebagai profesi, H. Mahbub Djunaidi pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1965-1970), Pimpinan Redaksi Duta Masjarakat (1960-1970), Ketua Dewan Kehormatan PWI (1973-1973). Sedangkan dalam bidang politik, beliau adalah anggota DPR GR (1967-1971), Wakil Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan anggota DPR/MPR RI (1971-1982). Sebagai seorang yang meminati sastra, H. Mahbub Djunaidi telah berhasil melahirkan beberapa karya novel, berbagai genre tulisan dan juga buku terjemahan.

Selain itu, aktivitas H. Mahbub juga diarahkan kepada organisasi massa NU. Sejak masih muda, beliau pernah menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Wakil Sekjen PBNU (1970-1979), Ketua II PBNU (1979-1984), Wakil Ketua PBNU (1984-1989), dan juga anggota Mustasyar PBNU (1989-1994).

MENULIS SARAT HUMOR

Menurut Ensiklopedia NU, H. Mahbub juga dikenang karena berbagai hal, di antaranya adalah sebab esai-esainya yang khas dan penuh humor, yang muncul di media-media terkemuka, seperti di Kompas dan Tempo. Esais Indonesia terkemuka, Goenawan Mohammad, mengaku cemburu dengan gaya menulis Mahbub yang kocak, yang bisa membuat orang tersenyum dan tertawa, meski yang dibicarakannya adalah soal yang serius sekali.

Dalam Ensiklopedia NU, H. Mahbub mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang "mime" yang setingkat Marcel Marceau. Beliau berhasil menggerakkan kata-kata dan kalimat dalam berbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan, sebab selalu tak terduga. Esai-esainya adalah kritik sosial yang tajam, namun tidak membuat orang yang dikritik menjadi marah.

Gaya esainya yang renyah ini membuatnya sering dijuluki sebagai Art Buchwald-nya Indonesia. Sementara gaya kocaknya itu membuatnya dikenal pula sebagai peIopor "jurnalisme humor". Esai-esainya yang tetap menarik dibaca hingga kini itu telah dikumpulkan dan dibukukan, di antaranya adalah Kolom Demi Kolom (1986), Humor Jurnalistik (1986), dan Asal-Usul (1996).

PERNAH DIPENJARA GARA-GARA TULISAN

Di dalam Ensiklopedia NU, karier wartawannya dimulai ketika H. Mahbub menjadi redaktur majalah sekolah, Pemuda Masyarakat, sambil mengetuai Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ranting SMP ll di Jakarta, 1952. Ketika bersekolah di SMA Budi Utomo, mulai muncul ke publik yang lebih luas. Karyanya berupa cerpen, sajak, dan esai dimuat di majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman, dan Star Weekly.

Satu hal yang menarik dari H. Mahbub adalah minatnya pada dunia tulis-menulis dan kesusastraan, justru ketika beliau bersekolah di Madrasah Manba'ul Ulum di Solo, ketika salah seorang gurunya, Kiyai Amir, sering memperkenalkannya pada karya-karya sastra dunia, seperti Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisyahbana, dan lain-lain.

Awal karier Mahbub pada 1950-an sebenarnya adalah sastrawan. Tapi, status ini sempat menghilang ketika ia lebih banyak sibuk sebagai wartawan dan aktivis partai. Baru tahun 1975, namanya muncul lagi ketika mengumumkan novelnya Dari Hari Ke Hari (Pustaka Jaya, 1975). Novel ini berkisah tentang perang kemerdekaan dengan tokoh utama seorang anak kecil yang dianggap sebagai metafora dari Indonesia, yang masih muda dan baru merdeka.

Novel ini menyabet penghargaan dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975.
Akibat tulisan-tulisannya yang penuh sindiran dan tajam, H. Mahbub juga sempat ditahan pada tahun 1978. Tapi di tahanan ini, justru ia dapat menyelesaikan terjemahan Road to Ramadan karya Husein Heikal dan sebuah novel Maka Lakulah Sebuah Hotel.

Tahun 1985 keluar lagi satu novelnya, yakni Angin Musim yang diterbitkan oleh Inti Idayu Press. Novel ini berisi tentang sindiran pada situasi sosial saat masa kekuasaan Orde Baru. Ketika itu korupsi melanda Indonesia tanpa ada yang bisa mencegahnya. Tapi, satu hal yang menarik dari novel ini adalah tokohnya, yakni seekor kucing jalanan. Dalam sejarah sastra Indonesia, inilah satu-satunya karya sastra yang menggunakan tokoh seekor binatang.

KARYA-KARYA

Berikut ini adalah sedikit dari banyaknya karya-karya H. Mahbub Djunaidi:

Dari Hari Ke Hari (1975)

Lakulah Sebuah Hotel (1978)

Politik Tingkat Tinggi Kampus (1978)

Di Kaki Langit Gunung Sinai (karya Mohamed Heikal, 1979)

Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (karya Michael H. Hart, 1982)

Binatangisme (karya George Orwell, 1983)

Cakar-Cakar Irving (karya Art Buchwald, 1982)

Lawrence dari Arabia (karya Philiph Knightly, 1982)

80 Hari Berkeliling Dunia (karya Jules Verne, 1983)

Angin Musim (1985)

Kolom Demi Kolom (1986)

Humor Jurnalistik (1986)

Mahbub Djunaidi Asal Usul (1996)

0 Comments