ANTARA PERJUANGAN DAN CINTA






Zahra Aulia Putri panggilan akrabnya Zahra ialah gadis manis yang hidup bersama ibunya di sebuah desa, dimana ia bercita-cita ingin mendapatkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri yang ada di Yogyakarta. Ia pun berusaha belajar dengan giat agar bisa diterima, disisi lain ia juga harus bekerja keras membantu berjualan aneka jajanan kue untuk biaya kehidupan sehari-hari. Karena ayahnya sudah meninggal sejak Zahra masih kecil. Zahra sudah terbiasa hidup mandiri merasakan pahit manisnya kehidupan. Ia pun menjadi wanita tangguh yang mental dan pikirannya sudah terbentuk menjadi dewasa. 

Sejak waktu SMA Zahra seringkali mengalami bullying di sekolahnya karena penampilannya yang sederhana dianggap kuno oleh teman-temannya. Namun ia tidak pernah sedih mendapatkan perlakuan bully oleh temannya dan menjadikan itu sebagai motivasi semangat dalam belajar. Ia pun menutupi kesedihan dengan wajah tersenyum saat mendapatkan perlakuan bully dari temannya. Zahra bersekolah mengandalkan beasiswa dari pemerintah karena cerdas dan selalu mendapatkan juara di setiap kali mengikuti perlombaan, bahkan sampai di kancah nasional ia mendapatkan juara satu lomba lari jarak jauh. Sampai suatu ketika ia tidak jadi ikut perlombaan karena ibunya jatuh sakit dan ia harus merawat ibunya. Zahra memiliki mental kuat yang diturunkan oleh ibunya. Ia bahkan pernah tidak makan seharian lebih memilih berpuasa ketika tidak ada halangan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.
 
Untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk membayar hutang ibunya kepada juragan beras Pak Bos Oim. Ibunya seringkali mendapatkan perlakuan kasar oleh anak buahnya Pak Bos Oim karena saat ditagih hutangnya ia tidak bisa membayarnya. Pak Bos Oim pun akan melunasi hutang ibunya asalkan Zahra menikah dengannya dan menjanjikan hidup enak. Padahal Pak Bos Oim sendiri sudah mempunyai tiga istri. Ibunya pasti tidak akan merelakan Zahra anak satu-satunya menikah dengan suami yang sudah mempumyai istri apalagi umurnya berbanding jauh dengannya. Mengetahui hal itu Gus Alfan putra dari Abah Akyas seorang kyai di desanya membantu Zahra untuk melunasi hutang ibu tercintanya serta membiayai pengobatan ibunya. Gus Alfan sapaan akrabnya ialah teman sekolahnya Zahra, ia menjadi idaman para wanita di sekolah karena tampan dan cerdas sekaligus menjadi ketua osis. Pak Mahbub ayahandanya Zahra semasa hidupnya ialah guru ngajinya Abah Akyas di desa. Menjadikan Gus Alfan sangat menghormati dan seringkali membantu Zahra ketika mengalami musibah. 

Tak heran jika mereka akrab menjadikan semua wanita di sekolahnya menjadi cemburu, terutama Siti yang menyukai Gus Alfan menjadi marah membara setiap kali melihat kedekatan Zahra dan Gus Alfan. Ia seringkali mengganggu kehidupannya Zahra dan mengancamnya. Siti ialah siswa kaya raya anak dari juragan Pak Bos Oim. Jadi Siti bisa bertindak semaunya karena mempunyai banyak uang. Namun Zahra tetap sabar dan selalu tersenyum mendapatkan ganguan dari Siti. Zahra pun menjadi wanita kuat oleh keadaan yang membuatnya mempunyai pengalaman dan mentalnya pun terbentuk sendirinya karena sudah terbiasa menghadapi cobaan mulai dari penghinaan, ancaman, perbuataan bully oleh temannya, dan kerasnya kehidupan dalam sehari-hari. Ibunya pun sering menasihati jika menjalani kehidupan jangan banyak mengeluh, pantang menyerah, kuat dan jangan lupa bersyukur, menikmati proses dan menjalani dengan sungguh-sungguh. Itu semua kunci dari kesuksesan di masa yang akan datang.

Tiga tahun telah berlalu masa-masa SMA akan segera berakhir, tinggal beberapa bulan lagi wisuda kelulusan. Kini Zahra bingung ingin melanjutkan cita-citanya untuk masuk di perguruan tinggi di Yogyakarta atau bekerja untuk membantu ibunya yang sudah menua dan  juga sakitnya sering kambuh. Ibunya menyarankan Zahra untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dan selalu berdo’a semoga mendapatkan beasiswa sesuai harapannya. Di hari pengumuman perolehan peringkat secara paralel pun telah diumumkan, Zahra meraih peringkat pertama dan yang kedua di raih oleh Gus Alfan dengan nilai selisih satu angka. Mereka berdua pun mendaftar di Universitas yang sama dengan program studi yang berbeda yaitu Universitas Gadjah Mada. Zahra memilih program studi Teknologi Informasi sedangkan Gus Alfan memilih program studi Ilmu Hukum.

Cepat atau lambat perpisahan itu pasti terjadi, waktu bersama tak mungkin diciptakan kalau tidak untuk dinikmati. Acara wisuda perpisahan sekolah pun telah tiba dimana semua siswa diwisuda dan diberikan penghargaan dari sekolah bagi siswa yang maraih peringkat secara paralel sekaligus membacakan siswa yang berhasil keterima di Universitas melalui jalur prestasi. Zahra yang berhasil diterima di UGM program studi Teknologi Informasi dan Gus Alfan juga berhasil diterima di UGM program studi Ilmu Hukum. Mereka berdua pun memperoleh beasiswa dari pemerintah. 

Apa yang harus kutulis lagi pada buku rindu di penghujung alamanak ini? seluruh kata telah kutumpahkan tanpa spasi, tanpa titik, bahkan tanpa mukadimah. Pada lembar-lembar akhir, segala risau dan resah yang bergumul di hatiku, telah tertuang tanpa penghalang. Ketakutan akan sebuah kehilangan, dapat kau baca dengan seksama bahwa aku rindu Ayah. Ada air mata menetes di ujung lembarnya. Apa yang harus kuhapus dari ungkap yang tak bisa ku bekap? pada tangan yang kutengadahkan ketika simpuh di atas sajadah subuh, seluruh keluh telah pun kuhamburkan tanpa batasan. Bagaimana aku harus ikhlas melepas pelukmu ibu yang terus saja menbebat hati dan jiwa ini? pada nyaman yang selalu kau hadirkan, pada damai yang selalu kau berikan, pada lindung yang selalu kau payungkan keatasku. Bagaimana? Ibuku tercinta….aku hampa tanpamu.

Sebuah pidato yang terucap Zahra sangat menyentuh hati semua orang. Setelah itu Zahra memeluk ibunya sambil menangis di pelukannya.

Seminggu setelah acara wisuda Zahra dan Gus Alfan pun berpamitan kepada orang tuanya untuk berangkat ke Yogyakarta menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada. Mereka berdua berangkat bersama berboncengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan mereka berdua beristirahat di sebuah warung makan untuk mengisi tenaga karena lumayan jauh perjalanannya. Selesai beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan lagi Gus Alfan bertanya kepada Zahra.

“Pernahkah engkau mencoba mengukur jarak anatara rindu dan air mata?”. Tanpa jawaban Zahra hanya menatap Gus Alfan dengan mata elang jelas menyiratkan tanya. “Jarak antara rindu dan air mata itu, sedekat lidah dan ucap. Begitu dekat, nyaris tanpa jarak. Namun, terkadang keduanya sangatlah berjauhan, serentang langit dan bumi yang tak pernah bersentuhan,” ucap Gus Alfan. Kulihat senyummu tersungging. Lalu, satu tanya meluncur manis dari bibirmu, “Berapa jarak antara rindu dan cinta?”. 

“Rindu dan cinta itu sejarak temu dan pelukan”, jawab Gus Alfan dengan senyum dan kerling tanpa berpaling. 

Tanpa aba-aba, pelukmu begitu hangat mendekap dan kecup Gus Alfan begitu lembut mendarat di kening Zahra. Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta penuh bahagia. 

TENTANG PENULIS

Muhammad Khoiru Royyan kelahiran Batang 23 Oktober 2003 merupakan mahasiswa baru UIN K.H.ABDURRAHMAN WAHID Pekalongan. Memiliki hobi membaca dan menulis yang di ajarkan oleh Abahnya. Dan sering mengikuti perlombaan menulis. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial maupun organisasi. Motto hidupnya belajar, berjuang dan bertaqwa.

0 Comments